Penggunaan panas pada mesin
pada awalnya para pakar mobil tidak/ kurang menyadari, bahwa tenaga
yang dihasilkan oleh mesin berasal dari tingkat panas pembakaran.
Pada mobil- mobil jenis lama, panas yang dihasilkan pada
pembakaran tidak dimanfaatkan secara maksimal untuk tenaga.
Pandangannya adalah bahwa semakin dingin mesin semakin bagus pula performa mesin
sehingga mesin jaman dulu tidak ada yang menggunakan kompresi mesin
yang tinggi.seiring dengan kemajuan tehnologi, dan sudah diketahui bahwa
tenaga mesin adalah hasil dari pembakaran yang menghasilkan panas. dan panas
pembakaran sangat berpengaruh pada tenaga, maka mesin-mesin sekarang
dirubah kompresinya menjadi semakin tinggi agar supaya dihasilkan tenaga
yang tinggi pula. secara umum seumpama panas pembakaran atau tenaga adalah 100%
maka pembagiannya adalah :
- 30% hasil pembakaran digunakan untuk tenaga
- 30% dibuang ke sistem pendingin
- 40% atau sisanya untuk dibuang ke knalpot dan lainnya.
maka apabila salah satu faktor ada yang dirubah, misalnya kondisi knalpot dirubah
(tanpa ada saringan )maka reaksi yang terjadi yaitu, panas yang seharusnya
digunakan untuk tenaga akan terbuang pada knalpot, sehingga untuk tenaga nilainya
berubah tidak 30% lagi, tetapi bisa dibawahnya.
Demikian pula apabila mesin terlalu dingin ( misal tidak ada termostat/pengatur
suhu mesin) maka panas yang terbuang ke sistem pendingin akan bertambah pula.
dan efeknya tenaga ke mesin akan berkurang juga.
bagaimana kalau sistem pembuangan pembakaran/knalpot dan pendingin dirubah ?
Maka yang terjadi adalah tenaga mesin tidak bisa maksimal.Atau kalaupun pada
mesin dihasilkan tenaga tinggi maka konsumsi
bensinnya akan menjadi bertambah atau lebih boros.